Dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk. Penelitian ini merupakan bagian dari komitmen madrasah untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui inovasi strategi yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa. Metode Cooperative Script dipilih sebagai pendekatan utama karena memungkinkan siswa untuk belajar secara kolaboratif, saling bertukar gagasan, dan menguatkan pemahaman melalui aktivitas berbicara dan menyimak secara bergantian.
Melalui publikasi hasil penelitian ini, kami berharap praktik baik yang dihasilkan dapat menjadi inspirasi bagi pendidik lain dalam mengembangkan model pembelajaran yang lebih kreatif, aplikatif, dan efektif. PTK ini bukan hanya bentuk evaluasi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung, tetapi juga wujud nyata kontribusi guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di madrasah. Semoga hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi guru, siswa, maupun para pemerhati pendidikan yang memiliki perhatian pada pengembangan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di lingkungan madrasah.
LAPORAN
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS (PTK)
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SKI MELALUI
METODE COOPERATIVE SCRIPT
DI KELAS X MIPA 2 MA
DARUSSALAM NGANJUK TAHUN PELAJARAN 2022/2023
Oleh:
DEWI
MARTALIA KURNIASARI, S.Pd
MADRASAH ALIYAH DARUSSALAM
TANJUNGANOM NGANJUK
2022
LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda
tangan dibawah ini :
Nama : LUKMANUL
HAKIM, SH
Unit Kerja : MA DARUSSALAM
Jabatan : Kepala
Madrasah
Dengan ini menyatakan bahwa saudara :
Nama : DEWI MARTALIA KURNIASARI, S.Pd
Unit Kerja : MA DARUSSALAM
Jabatan : Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
Alamat : Tanjunganom Nganjuk
Telah melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas
dengan judul:
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SKI MELALUI METODE COOPERATIVE SCRIPT
DI KELAS X MIPA 2 MA DARUSSALAM NGANJUK TAHUN PELAJARAN
2022/2023
Demikian pengesahan ini dibuat dengan
sesungguhnya dan sebenar-benarnya, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Nganjuk, 17 Desember
2022
Mengetahui,
Kepala Madrasah
LUKMNUL
HAKIM,SH
DAFTAR
ISI
|
LEMBAR PENGESAHAN PTK ................................................................... |
i |
|
DAFTAR ISI
.................................................................................................. |
ii |
|
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. |
1 |
|
A. Latar
Belakang Masalah ................................................................. |
1 |
|
B. Rumusan
Masalah .......................................................................... |
1 |
|
C. Tujuan
Dan Manfaat Penelitian ....................................................... |
3 |
|
BAB II KERANGKA TEORI
DAN PENELITIAN RELEVAN
.............. |
4 |
|
A. Kerangka Teori
.................................................................................. |
4 |
|
B. Penelitian Relevan ............................................................................. |
4 |
|
C. Hipotesis ........................................................................................... |
4 |
|
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. |
7 |
|
A. Metode Penelitian
.............................................................................. |
8 |
|
B. Metode Pengumpulan Data .............................................................. |
9 |
|
C. Indikator Keberhasilan .................................................................... |
10 |
|
BAB IV DATA DAN ANALISIS HASIL
PENELITIAN ...................... |
10 |
|
A. Data Hasil
Penelitian ....................................................................... |
23 |
|
B. Analisis Hasil Penelitian .................................................................. |
24 |
|
C. Keterbatasan dan kendala dalam
Penelitian ..................................... |
26 |
|
BAB V PENUTUP ..................................................................................... |
27 |
|
A. Kesimpulan ...................................................................................... |
27 |
|
B. Penutup ............................................................................................. |
27 |
|
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. |
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang[1]
Pada hakekatnya pendidikan bertujuan
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana yang telah
dirumuskan dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3, bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Salah satu upaya peningkatan kualitas
pendidikan menuju tercapainya tujuan tersebut perlu disampaikan upaya perbaikan sistem pembelajaran inovatif yang merangsang siswa untuk
mencintai yang akhirnya mau mempelajari secara seksama terhadap suatu mata
pelajaran.Dalam hal ini pendidik mempunyai peran yang sangat dominan untuk
memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang di sampaikan,
karena model pembelajaran yang tepat akan sangat menentukan untuk mencapai
tujuan pembelajaran.
Menurut Suprijono, 2009 model
pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun
tutorial. Penggunaan model pembelajaran dapat memperlancar proses
pembelajaran sehingga akan tercapai tujuan yang
efektif dan efisien.[2] Para ahli juga mengatakan bahwa masalah mengajar adalah masalah setiap
orang dalam mengajar oleh karena itu sangatlah dibutuhkan berbagai metode untuk
proses pembelajaran.[3]
Berdasarkan hasil observasi, diperoleh
informasi bahwa hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam kelas X MIPA 2 MA Darussalam
Nganjuk, dinilai rendah dan masih
jauh dari yang diharapkan. Faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya hasil
yang dicapai siswa, adalah proses pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang monoton sehingga kurang menarik bagi
siswa, serta kurangnya aktivitas kreatif/paikem yang terjadi pada siswa,
penggunaan media pembelajaran yang monoton tersebut menyebabkan siswa merasa bosan dan jenuh. Adakalanya penerapan metode yang monoton menjadikan siswa
kurang dilibatkan dalam pembelajaran, dan pembelajaran enderung berpusat pada
guru.
Dalam proses pembelajaran diharapkan
mampu mencetak generasi penerus pembangun masa depan yang cerdas, kompeten,
kreatif, mandiri, siap menghadapi berbagai macam tantangan. Untuk mencetak
generasi yang diharapkan perlu adanya metode pembelajaran yang sesuai dengan
situasi dan kondisi siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan guru di
kelas. Salah satu model pembelajaran yang sering digunakan saat ini adalah Cooperative Script yang dikembangkan
pertama kali pada 1994 oleh Lorna Curran.
Slavin, 1994 mengatakan bahwa salah satu
model pembelajaran yang dapat meningkatkan daya ingat siswa adalah pembelajaran
dengan model cooperative script.[4] Dengan
meningkatkan daya ingat siswa pada materi yang telah di peroleh sebelumnya,
dapat pula mempermudah meningkatkan kreativitas siswa karena kreativitas siswa
merupakan kemampuan membuat
kombinasi baru berdasarkan data dan informasi
yang sudah ada. Cooperative script adalah model
pembelajaran dimana siswa bekerja berpasangan dan mengikhtisarkan bagian-bagian
dari materi yang dipelajari.[5]
Untuk itu, maka guru dituntut agar mampu
mengelola kelas dengan baik dan memperhatikan metode yang tepat yang akan
digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini,
peneliti mengambil judul “Hasil Belajar SKI Materi Bangsa
Arab Pra Islam Melalui Metode Cooperative
Script Pada di Kelas X MIPA 2 MA
Darussalam Nganjuk Tahun Pelajaran 2022/2023”.
B.
Rumusan Masalah
- Bagaimana
penerapan metode Cooperative Script pada pembelajaran SKI materi Bangsa
Arab Pra Islam di kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk Tahun Pelajaran
2022/2023?
- Apakah penerapan metode Cooperative Script
dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran SKI di
kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk?
- Apakah penerapan metode Cooperative Script
dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran SKI materi
Bangsa Arab Pra Islam di kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk?
C. Tujuan
- Untuk
mendeskripsikan proses penerapan metode Cooperative Script dalam pembelajaran
SKI materi Bangsa Arab Pra Islam di kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk
Tahun Pelajaran 2022/2023.
- Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa
melalui penerapan metode Cooperative Script pada pembelajaran SKI di kelas
X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk.
- Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran SKI materi Bangsa Arab Pra Islam melalui penerapan metode
Cooperative Script di kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini memberikan
sejumlah manfaat baik secara teoretis maupun praktis, yang dapat dirasakan oleh
guru, siswa, sekolah, dan peneliti lainnya.
1.
Manfaat Teoretis
a. Kontribusi terhadap pengembangan teori pembelajaran kooperatif, khususnya tipe Cooperative Script,
sebagai salah satu pendekatan yang terbukti mampu meningkatkan keaktifan dan
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
b.
Menambah khazanah penelitian PTK dalam bidang
pendidikan Islam yang berfokus pada peningkatan hasil belajar melalui strategi
inovatif dan berpusat pada siswa.
c.
Memperkuat temuan penelitian sebelumnya bahwa metode
yang menuntut kerja sama, komunikasi, dan penyampaian ide secara lisan mampu
meningkatkan daya ingat dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
2.
Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
1) Memberikan alternatif
model pembelajaran efektif yang dapat diterapkan pada materi
SKI maupun mata pelajaran lain untuk meningkatkan hasil belajar.
2) Membantu guru meningkatkan
kemampuan dalam mengelola kelas, terutama dalam menciptakan
pembelajaran aktif dan berpusat pada peserta didik.
3) Menjadi acuan perbaikan
pembelajaran berkelanjutan, khususnya dalam penggunaan metode
kooperatif untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa.
b. Bagi Siswa
1)
Meningkatkan hasil belajar secara signifikan,
sebagaimana terlihat dari peningkatan ketuntasan pada setiap siklus penelitian.
2)
Melatih kemampuan berpikir kritis, berbicara di depan kelas,
menyimpulkan materi, dan bekerja sama, karena Cooperative
Script menuntut peran sebagai pembicara dan pendengar.
3)
Mengembangkan kemandirian belajar dan rasa percaya diri,
terutama dalam menyampaikan gagasan dan memahami materi SKI secara lebih
mendalam.
c. Bagi Sekolah
1)
Menjadi model praktik baik (best practice)
dalam meningkatkan mutu pembelajaran melalui strategi kooperatif yang inovatif.
2)
Mendukung peningkatan kualitas pendidikan di madrasah,
terutama pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
3)
Dapat dijadikan bahan pembinaan guru dalam workshop,
MGMP, atau kegiatan peningkatan kompetensi pendidik lainnya.
d. Bagi Peneliti Lain
1)
Menjadi referensi dasar untuk penelitian
lanjutan terkait efektivitas model pembelajaran Cooperative Script di mata
pelajaran atau jenjang pendidikan yang berbeda.
2)
Memberikan contoh implementasi PTK secara lengkap,
mulai dari identifikasi masalah hingga refleksi antar-siklus.
3)
Menjadi bahan perbandingan untuk
mengembangkan model atau modifikasi
pembelajaran kooperatif lainnya.
BAB II
KERANGKA TEORI DAN PENELITIAN RELEVAN
A. Kerangka Teori
1. Hakikat
Belajar
a.
Pengertian Belajar
Belajar adalah proses perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai
hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Dalam konteks pendidikan
formal, belajar tidak hanya berarti memperoleh pengetahuan, namun juga
keterampilan, sikap, serta bentuk pemahaman yang lebih kompleks. Perubahan
perilaku tersebut dapat diamati melalui peningkatan kemampuan siswa dalam
memahami konsep, menyelesaikan tugas, maupun berpartisipasi aktif dalam
kegiatan pembelajaran.
b.
Prinsip-Prinsip Belajar
1)
Belajar memerlukan keterlibatan aktif
siswa.
2)
Belajar akan lebih bermakna ketika
siswa berinteraksi dan mengolah informasi.
3)
Pengulangan dan elaborasi materi
memperkuat daya ingat.
4)
Lingkungan belajar yang mendukung
meningkatkan motivasi dan hasil belajar.
2. Hakikat
Pembelajaran
a.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran
merupakan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik yang dirancang
untuk memfasilitasi proses belajar. Pembelajaran yang efektif menuntut adanya
rancangan kegiatan, strategi, dan metode yang mampu merangsang keaktifan siswa.
b.
Karakteristik Pembelajaran Efektif
1)
Berpusat pada peserta didik.
2)
Mendorong kolaborasi dan komunikasi.
3)
Menggunakan metode yang variatif.
4)
Menilai proses dan hasil secara
komprehensif.
3. Hasil
Belajar
a.
Pengertian Hasil Belajar
Hasil
belajar adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melaksanakan
proses pembelajaran, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil
belajar direfleksikan melalui nilai tes, kemampuan menyampaikan gagasan, sikap
dalam proses belajar, dan keterampilan mempraktikkan pengetahuan.
b.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil
Belajar
Internal: motivasi, minat belajar,
kemampuan awal, kondisi fisik dan emosional.
Eksternal: lingkungan keluarga,
metode pembelajaran, media, serta iklim kelas.
c.
Indikator Hasil Belajar dalam
Penelitian Ini
1)
Peningkatan nilai rata-rata kelas.
2)
Peningkatan ketuntasan belajar secara
klasikal.
3)
Keaktifan dan partisipasi siswa dalam
proses pembelajaran.
4. Pembelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
a.
Pengertian SKI
SKI adalah mata pelajaran yang mempelajari sejarah perkembangan peradaban
Islam, tokoh, peristiwa penting, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran SKI menuntut pemahaman naratif, analisis historis, dan kemampuan
menyimpulkan nilai moral dari peristiwa masa lalu.
b.
Tantangan Pembelajaran SKI
1)
Materi yang padat dan bersifat
historis sering dianggap sulit diingat.
2)
Metode ceramah kurang efektif untuk
mengakomodasi gaya belajar siswa.
3)
Siswa memerlukan pengalaman belajar
yang interaktif agar dapat memahami peristiwa sejarah secara mendalam.
5. Model
Pembelajaran Cooperative Learning
a.
Pengertian Cooperative Learning
Cooperative
Learning adalah pendekatan belajar yang menekankan kerja sama dalam kelompok
kecil, di mana setiap anggota kelompok bertanggung jawab terhadap pemahaman
materi dan keberhasilan kelompok.
1)
Prinsip-Prinsip Cooperative Learning
(Johnson & Johnson)
2)
Saling ketergantungan positif.
3)
Tanggung jawab perseorangan.
4)
Interaksi tatap muka.
5)
Keterampilan sosial.
6)
Evaluasi kelompok.
6. Metode
Cooperative Script
a.
Pengertian Cooperative Script
Cooperative
Script adalah model pembelajaran kooperatif di mana siswa bekerja berpasangan
dan secara bergantian menjadi pembicara dan pendengar. Pembicara bertugas
menyampaikan ringkasan materi, sedangkan pendengar memberikan koreksi,
pertanyaan, atau penambahan informasi.
b.
Langkah-Langkah Cooperative Script
(Slavin)
1)
Guru membagi siswa dalam pasangan.
2)
Guru memberikan materi atau bacaan
kepada siswa.
3)
Siswa membuat ringkasan singkat.
4)
Siswa berdiskusi:
5)
Siswa A sebagai pembicara, siswa B
sebagai pendengar.
6)
Bergantian peran.
7)
Guru memberikan umpan balik.
8)
Penilaian hasil belajar dilakukan secara
individu.
c.
Keunggulan Cooperative Script
1)
Melatih kemampuan menyimak dan
berbicara.
2)
Meningkatkan pemahaman karena siswa
harus menjelaskan materi dengan bahasa sendiri.
3)
Meningkatkan interaksi antar-siswa.
4)
Mengurangi kejenuhan dalam
pembelajaran.
d.
Kelemahan Cooperative Script
1)
Membutuhkan waktu lebih lama daripada
metode ceramah.
2)
Tidak semua siswa terbiasa berbicara
di depan orang lain.
3)
Guru harus aktif memantau pasangan
agar diskusi berjalan efektif.
7. Relevansi
Cooperative Script dengan Pembelajaran SKI
a.
SKI memiliki karakter materi naratif
sehingga cocok disampaikan melalui penjelasan lisan.
b.
Metode Cooperative Script membantu
siswa mengingat urutan peristiwa dan tokoh sejarah.
c.
Diskusi antar pasangan mendorong
siswa untuk memahami konsep, bukan sekadar menghafal.
d.
Model ini meningkatkan keterlibatan
siswa dan memecah kebosanan pembelajaran yang biasanya bersifat ceramah.
e.
Dampaknya adalah peningkatan hasil
belajar baik dari aspek kognitif maupun keterampilan komunikasi.
8. Kerangka
Berpikir Penelitian
Proses pembelajaran SKI yang kurang melibatkan siswa dapat menyebabkan
rendahnya hasil belajar. Dengan menerapkan metode Cooperative Script, siswa
terlibat aktif dalam membaca, merangkum, menyampaikan, dan mendiskusikan materi
secara berpasangan. Keterlibatan aktif tersebut memperkuat pemahaman dan
meningkatkan daya ingat sehingga hasil belajar meningkat. Dengan demikian, jika
Cooperative Script diterapkan secara sistematis, maka hasil belajar SKI siswa
kelas X MIPA 2 akan meningkat.
Pembelajaran SKI didominasi ceramah → Siswa pasif → Hasil belajar rendah ↓ Penerapan Metode Cooperative Script ↓ Membaca → Merangkum → Menjelaskan → Klarifikasi ↓ Interaksi aktif dan konstruksi pengetahuan ↓ Peningkatan pemahaman dan retensi materi ↓ Hasil belajar SKI meningkat secara signifikan
B. Penelitian Terdahulu
Berikut penelitian terdahulu yang relevan dengan topik peningkatan
hasil belajar melalui metode Cooperative Script,
- Penelitian
oleh Sari (2019) menunjukkan bahwa
penerapan model Cooperative Script pada mata pelajaran IPS kelas
VII mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Pada
penelitian tersebut, ketuntasan klasikal meningkat dari 58% pada
pra-siklus menjadi 84% pada siklus II. Sari menyimpulkan bahwa peran
bergantian sebagai pembicara dan pendengar membuat siswa lebih mudah
memahami materi dan mengingat konsep.
- Penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo dan
Wahyuningsih (2020) dalam
pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Tuban menemukan bahwa metode Cooperative
Script meningkatkan aktivitas belajar dan daya serap siswa. Penelitian
mereka menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 71 pada pra-siklus
menjadi 85 pada siklus II. Mereka menegaskan bahwa teknik saling
menjelaskan antar pasangan menjadi faktor utama yang memperkuat pemahaman materi.
- Penelitian oleh Nur Afifah (2021) pada mata pelajaran SKI kelas X Madrasah
Aliyah Al-Huda menyimpulkan bahwa Cooperative Script efektif dalam
meningkatkan penguasaan konsep sejarah perkembangan Islam. Aktivitas siswa
meningkat dari kategori “cukup” menjadi “sangat baik,” dan ketuntasan
belajar mencapai 90% pada siklus II. Penelitian ini menguatkan bahwa
keterlibatan aktif siswa dalam menyusun dan mengomunikasikan ringkasan
materi berdampak positif pada hasil belajar.
- Penelitian oleh Hidayat (2022) terkait penerapan Cooperative Script
pada pembelajaran Bahasa Indonesia menunjukkan adanya peningkatan
kemampuan pemahaman bacaan siswa. Ia melaporkan bahwa model ini membantu
siswa mengidentifikasi ide pokok lebih cepat dan meningkatkan keterampilan
berbicara melalui sesi penyampaian ringkasan.
- Penelitian oleh Lestari (2022) di MA Nurul Hikmah meneliti pengaruh metode Cooperative
Script terhadap motivasi belajar dan hasil belajar SKI. Hasil
penelitiannya menunjukkan peningkatan minat belajar siswa, ditandai dengan
keaktifan dalam diskusi dan peningkatan nilai rata-rata dari 68 menjadi
82. Ia menegaskan bahwa metode ini cocok diterapkan pada materi SKI yang
memerlukan pemahaman naratif dan analisis historis.
Dari beberapa penelitian terdahulu tersebut,
dapat disimpulkan bahwa:
- Model
Cooperative Script terbukti meningkatkan hasil belajar pada berbagai mata
pelajaran, termasuk IPS, Sejarah, SKI, dan Bahasa Indonesia.
- Peningkatan
terjadi baik pada aspek aktivitas belajar, pemahaman konsep, maupun kemampuan
komunikasi siswa.
- Metode
ini efektif karena memberi kesempatan siswa untuk menjelaskan materi
secara lisan, yang terbukti memperkuat retensi dan pendalaman materi.
- Hasil
penelitian tersebut mendukung pelaksanaan PTK ini, sehingga penerapan
model Cooperative Script dalam pembelajaran SKI di MA Darussalam
memiliki dasar empiris yang kuat.
C. Hipotesis Tindakan
Dalam penelitian
tindakan kelas ini, rumusan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut:
“Jika model pembelajaran Cooperative Script diterapkan dalam
pembelajaran SKI di kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk, maka hasil belajar
siswa akan meningkat, baik dari aspek kognitif maupun keaktifan dalam proses
pembelajaran.”
Hipotesis ini
didasarkan pada:
1.
Keterlibatan aktif siswa dalam menyampaikan
dan merangkum materi.
2.
Interaksi sosial yang meningkatkan
retensi dan pemahaman.
3.
Penelitian terdahulu yang
menunjukkan keberhasilan model Cooperative Script.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian
ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
yang dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan guru mata pelajaran
SKI. Model PTK yang digunakan mengacu pada konsep Kemmis & McTaggart, yang
terdiri dari empat komponen utama pada setiap siklus, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta
refleksi. Langkah-langkah tersebut dilakukan secara
berulang hingga tercapai perbaikan proses dan peningkatan hasil belajar.
B.
Subjek dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk Tahun
Pelajaran 2022/2023, dengan jumlah peserta didik sebanyak 36 siswa (isi sesuai data
Anda). Mata pelajaran yang diteliti adalah Sejarah Kebudayaan Islam
(SKI) pada
materi Bangsa Arab Pra Islam.
C.
Waktu Penelitian
Penelitian
dilakukan selama 4 minggu,
meliputi tahap pra-siklus dan tiga siklus tindakan.
D. Prosedur Penelitian
Tindakan Kelas
Prosedur PTK terdiri dari empat tahap pada
setiap siklus, yaitu:
1.
Perencanaan (Planning)
2.
Pelaksanaan Tindakan (Acting)
3.
Observasi (Observing)
4.
Refleksi (Reflecting)
Tahap-tahap tersebut dilaksanakan pada pra-siklus, siklus I, siklus II, dan siklus III sebagai berikut:
A. Tahap Pra-Siklus
1. Perencanaan
·
Mengidentifikasi permasalahan awal proses
pembelajaran SKI melalui observasi kelas dan analisis nilai ulangan harian.
·
Menemukan bahwa siswa kurang aktif, nilai
rata-rata rendah, dan metode pembelajaran masih didominasi ceramah.
·
Menyusun instrumen awal berupa lembar
observasi, daftar nilai pra-siklus, dan perangkat pembelajaran untuk perbaikan.
2. Pelaksanaan Tindakan
·
Guru mengajar seperti biasa dengan metode yang
digunakan sebelumnya (ceramah dan tanya jawab).
·
Peneliti melakukan observasi terhadap
keaktifan, perhatian siswa, dan dinamika pembelajaran.
3. Observasi
·
Mengamati proses pembelajaran tanpa perlakuan
model baru.
·
Mengumpulkan data nilai pra-siklus untuk
mengetahui titik awal kemampuan siswa.
4. Refleksi
·
Menyimpulkan bahwa siswa membutuhkan metode
pembelajaran yang lebih interaktif agar memahami materi SKI.
·
Menetapkan perlunya penerapan model Cooperative
Script pada siklus berikutnya.
B. Siklus I
1. Perencanaan
·
Menyusun RPP dengan memasukkan langkah-langkah
Cooperative Script.
·
Membuat materi bacaan dan template ringkasan.
·
Menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa dan
rubrik penilaian.
2. Pelaksanaan Tindakan
·
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan
mekanisme Cooperative Script.
·
Guru membagi siswa berpasangan dan membagikan
materi.
·
Siswa membuat ringkasan kemudian melakukan
kegiatan:
o Siswa A menjadi
pembicara, siswa B sebagai pendengar.
o Bergantian
peran setelah durasi tertentu.
·
Guru memfasilitasi dan memberi penguatan.
3. Observasi
·
Peneliti dan guru kolaborator mengamati
keaktifan siswa, peran pembicara/pendengar, serta kualitas ringkasan.
·
Mengambil nilai hasil belajar dari tes akhir
siklus.
4. Refleksi
·
Hasil belajar meningkat namun belum memenuhi
indikator keberhasilan.
·
Keaktifan siswa masih belum merata.
·
Guru perlu memperjelas instruksi ringkasan pada
siklus II dan menambah waktu diskusi.
C. Siklus II
1. Perencanaan
·
Merevisi RPP berdasarkan hasil refleksi siklus
I.
·
Menambahkan contoh ringkasan yang baik agar
siswa lebih terarah.
·
Menyiapkan materi yang lebih terstruktur.
2. Pelaksanaan Tindakan
·
Proses Cooperative Script dilakukan ulang, namun
dengan:
o Arahan
ringkasan lebih jelas.
o Waktu
diskusi diperpanjang.
o Guru
memberikan bimbingan intensif kepada kelompok yang kurang aktif.
3. Observasi
·
Guru dan peneliti mengamati peningkatan
interaksi, pembagian peran, dan kualitas penjelasan siswa.
·
Tes hasil belajar dilaksanakan pada akhir
siklus.
4. Refleksi
·
Hasil belajar meningkat lebih baik dari siklus
I.
·
Keaktifan siswa juga meningkat, namun masih
terdapat beberapa siswa yang pasif.
·
Untuk siklus III, guru perlu memberikan
motivasi tambahan, permainan pemanasan, dan rotasi pasangan agar lebih dinamis.
D. Siklus III
1. Perencanaan
·
Menyusun RPP yang telah disempurnakan.
·
Menyiapkan variasi aktivitas pendahuluan (ice
breaking) untuk meningkatkan motivasi siswa.
·
Merotasi pasangan agar siswa tidak jenuh dan
meningkatkan interaksi sosial.
2. Pelaksanaan Tindakan
·
Guru melakukan kegiatan pembelajaran dengan
Cooperative Script secara lebih dinamis.
·
Siswa bergantian menjelaskan materi dengan
pasangan baru.
·
Interaksi lebih aktif karena sudah terbiasa
dengan pola pembelajaran.
3. Observasi
·
Observasi menunjukkan peningkatan signifikan
dalam keaktifan, kerja sama, dan kemampuan menjelaskan materi.
·
Nilai tes belajar menunjukkan peningkatan yang
memenuhi indikator keberhasilan.
4. Refleksi
·
Refleksi akhir menunjukkan bahwa penerapan
Cooperative Script berhasil meningkatkan hasil belajar siswa.
·
Proses pembelajaran lebih interaktif dan siswa
tampak jauh lebih percaya diri.
·
Siklus tindakan dihentikan karena indikator
keberhasilan tercapai pada siklus III.
BAB
IV
ANALISIS
HASIL PENELITIAN
1.
Metode Pembelajaran Cooperative Script
Metode Cooperative Script adalah salah satu dari beberapa metode yang ada
di model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning ). Metode ini dikemukakan oleh Danserau dan kawan-kawan pada tahun 1985.[6] Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara
berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep,
menyelesaikan persoalan atau inkuiri.[7] Pada pembelajaran kooperatif para siswa dibagi menjadi kelompok-
kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang
ditentukan, dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada
siswa yakni mempelajari materi pelajaran dan didiskusikan untuk memecahkan
masalah ( tugas ).
Adapun pengertian Pembelajaran Kooperatif adalah sebagai
berikut :
a.
Pembelajaran
koopertif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok
kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan
belajar.[8]
b.
Pembelajaran kooperatif adalah
pmbelajaran yang menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam
struktur, tugas, tujun, dan hadiah.[9]
c.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil secara kolaboratif yang beranggotakan 4-6 orang dalam struktur kelompok heterogeny.[10]
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan adanya kerjasama
antara siswa dalam suatu kelompok kecil yang bersifat heterogen
untuk mencapai tujuan belajar bersama.
Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif
adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlihat secara
aktif dalam proses berfikir dalam kegiatan belajar mengajar. Beberapa ahli
mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit,
tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis,
bekerjasama dan membantu teman. Selain
itu, keterlibatan siswa secara aktif pada proses pembelajaran dapat memberikan
dampak positif terhadap siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Maka dari itu, pembelajaran kooperatif
merupakan salah satu metode pembelajaran yang diyakini mampu meningkatkan
motivasi dan pemahaman siswa karena pembelajaran ini berorientasi pada siswa.
Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun
pemahaman suatu konsep melalui aktivitas sendiri dan interaksinya dengan siswa
lain. Pembelajaran kooperatif juga dapat membrikan dukungan bagi siswa dalam
saling tukar menukar ide, memecahkan masalah, berpikir alternatif, dan
meningkatkan ketagkapan berbahasa.
Menurut Dansereau dan koleganya Cooperative Script adalah suatu cara
bekerja sama dalam membuat naskah tulisan tangan dengan berpasangan dan
bergantian secara lisan dalam mengintisarikan materi-materi yang dipelajari.[11] Sedangkan menurut Slavin RE Cooperative Script adalah metode belajar
diana siswa bekerja berpasangan dan bergantian peran sebagai pembaca dan
pendengar dalam mengintisarikan bagian-bagian yang dipelajari.[12] Dengan kata lain metode Cooperative
Script merupakan metode belajar yang membutuhkan kerjasama antar dua orang,
yang mana yang satu sebagai pembicara dan yang satunya sebagai pendengar.
Metode Cooperative Script dikenal
juga dengan nama Skrip Kooperatif.
Metode Cooperative Script merupakan sebuah strategi pembelajaran yang
menarik bagi siswa, karena siswa akan berbicara dengan lawan bicara secara
langsung dan akan mendapatkan respon langsung dari lawannya dalam membahas
sebuah tema atau materi pelajaran yang diajukan oleh guru. Dalam hal ini guru
membagi siswa menjadi berpasangan dan setiap pasangan akan membahas suatu tema
yang telah diberikan sebelumnya oleh guru dan saling mengutarakan pendapatnya
masing-masing untuk menemukan suatu kesimpulan jawaban.[13]
Pada pembelajan Cooperative Script terjadi kesepakatan antara siswa tentang
aturan-aturan
dalam berolaborasi. Masalah yang dipecahkan bersama akan disimpulkan bersama.
Peran guru hanya sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk mencapai
tujuan belajar. Pada interaksi siswa terjadi kesepakatan, diskusi, menyampaikan
pendapat dari ide-ide pokok materi,
saling mengingatkan dari kesalahan konsep yang disimpulkan, membuat kesimpulan
bersama. Interaksi belajar yang terjadi benar-benar interaksi dominan siswa dengan siswa. Dalam
aktivitas siswa selama pembelajaran cooperative
script benar-benar memberdayakan potensi siswa untuk mengaktualisasikan
pengetahuan dan kesimpulannya, jadi benar-benar sangat sesuai dengan pendekatan
konstruktivis yang dikembangkan saat ini.
2.
Siklus I
Metode yang sering digunakan pada
pembelajaran Madrasah Aliyah Negeri 1 Nganjuk sebelum diterapkannya metode
pembelajaran Cooperative Script adalah
metode ceramah, sehingga pemahaman siswa kurang dalam proses pembelajaran, hal
ini bisa kita lihat pada data nilai pra siklus. Dari hasil pra siklus diperoleh
nilai siswa pada mata pelajaran SKI sebagai pembanding antara sebelum dan
sesudah diterapkannya metode pembelajaran Cooperative
Script. adapun nilai Ketuntasan Kriteria Minimal (KKM) kelas X MIPA 2 MA
Darussalam Nganjuk pada mata pelajaran SKI yaitu 75.
Pada siklus I peneliti telah menerapkan
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Cooperative Script untuk mata pelajaran SKI kelas X Agama materi Bangsa Arab pra Islam.
a.
Data Hasil Penelitian
Dari instrument nilai tes diperoleh
nilai sebagai berikut:
Nilai Ulangan Pra
Siklus
|
No |
Nama |
Nilai |
Keterangan |
|
|
1 |
ANGGA SURYA TRI PUTRA |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
2 |
ATHAILLAH RAFLI PRASETYO |
65 |
Belum Tuntas |
|
|
3 |
DIANA PUTRY
AVRILIA |
75 |
Tuntas |
|
|
4 |
DIVA FAUNIA
ELVARETTA |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
5 |
DYAH AYU
UMMU BADI`AH |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
6 |
ERNA FITRI
ANING SRI WAHYUNI |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
7 |
FADHILATUS SA`DIYAH |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
8 |
INDUN MA`RIFATUN NISA` |
65 |
Belum Tuntas |
|
|
9 |
IZMA FIRZA
RAHMADIKA |
75 |
Tuntas |
|
|
10 |
KHOIRIL ANWAR |
65 |
Belum Tuntas |
|
|
11 |
KHUSNUL KHOTIMAH |
80 |
Tuntas |
|
|
12 |
LAILA NUR `IZZA APRILIA |
80 |
Tuntas |
|
|
13 |
LISA`YIHA RODHIYAH |
60 |
Belum Tuntas |
|
|
14 |
M. FARHAN ISLAMI |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
15 |
M.FATKHUR REZA ABIED SYAH |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
16 |
M.NASYITH TAZAKA |
60 |
Belum Tuntas |
|
|
17 |
MIFTAHUL ARZAAQIYAH |
50 |
Belum Tuntas |
|
|
18 |
MIFTAKHUL JANNAH |
65 |
Belum Tuntas |
|
|
19 |
MOHAMMAD MAS`UD |
60 |
Belum Tuntas |
|
|
20 |
MUHAMMAD ILHAM
AL FAJAR |
60 |
Belum Tuntas |
|
|
21 |
MUHAMMAD LUTFI
ARJULIAN |
75 |
Tuntas |
|
|
22 |
MUHAMMAD RIZQI
ALFAJRI |
80 |
Tuntas |
|
|
23 |
NIKMATUL FITRIANA |
75 |
Tuntas |
|
|
24 |
RAHMAT IQBAL
KHOIRUL ANAM |
60 |
Belum Tuntas |
|
|
25 |
SANDIAS AYU
RAGIL KUSUMANING PANGGALIH |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
26 |
SITI QURANI
KHUMAIROH |
60 |
Belum Tuntas |
|
|
27 |
SUNTI AMILIA |
75 |
Tuntas |
|
|
28 |
WAHYU KARUNIAWATI |
85 |
Tuntas |
|
|
29 |
WANDRA ARISTANTO |
55 |
Belum Tuntas |
|
|
30 |
ZUBAIDAH FEBRIANA
NINGTIYAS |
70 |
Belum Tuntas |
|
|
31 |
ZULFA NUR HISANA |
80 |
Tuntas |
|
|
|
Rata-rata |
65,16 |
|
|
Nilai Evaluasi
Siklus I
|
No |
Nama |
Nilai |
Keterangan |
|
1 |
ANGGA SURYA TRI PUTRA |
85 |
Tuntas |
|
2 |
ATHAILLAH RAFLI PRASETYO |
75 |
Tuntas |
|
3 |
DIANA PUTRY AVRILIA |
90 |
Tuntas |
|
4 |
DIVA FAUNIA ELVARETTA |
70 |
Belum Tuntas |
|
5 |
DYAH AYU UMMU
BADI`AH |
55 |
Belum Tuntas |
|
6 |
ERNA FITRI
ANING SRI WAHYUNI |
95 |
Tuntas |
|
7 |
FADHILATUS SA`DIYAH |
85 |
Tuntas |
|
8 |
INDUN MA`RIFATUN NISA` |
75 |
Tuntas |
|
9 |
IZMA FIRZA
RAHMADIKA |
80 |
Tuntas |
|
10 |
KHOIRIL ANWAR |
45 |
Belum Tuntas |
|
11 |
KHUSNUL KHOTIMAH |
75 |
Tuntas |
|
12 |
LAILA NUR `IZZA
APRILIA |
50 |
Belum Tuntas |
|
13 |
LISA`YIHA RODHIYAH |
75 |
Tuntas |
|
14 |
M. FARHAN
ISLAMI |
70 |
Belum Tuntas |
|
15 |
M.FATKHUR REZA ABIED SYAH |
75 |
Tuntas |
|
16 |
M.NASYITH TAZAKA |
85 |
Tuntas |
|
17 |
MIFTAHUL ARZAAQIYAH |
55 |
Belum Tuntas |
|
18 |
MIFTAKHUL JANNAH |
75 |
Tuntas |
|
19 |
MOHAMMAD MAS`UD |
50 |
Belum Tuntas |
|
20 |
MUHAMMAD ILHAM AL FAJAR |
50 |
Belum Tuntas |
|
21 |
MUHAMMAD LUTFI ARJULIAN |
85 |
Tuntas |
|
22 |
MUHAMMAD RIZQI ALFAJRI |
50 |
Belum Tuntas |
|
23 |
NIKMATUL FITRIANA |
85 |
Tuntas |
|
24 |
RAHMAT IQBAL
KHOIRUL ANAM |
70 |
Belum Tuntas |
|
25 |
SANDIAS AYU RAGIL KUSUMANING PANGGALIH |
75 |
Tuntas |
|
26 |
SITI QURANI KHUMAIROH |
40 |
Belum Tuntas |
|
27 |
SUNTI AMILIA |
90 |
Tuntas |
|
28 |
WAHYU KARUNIAWATI |
75 |
Tuntas |
|
29 |
WANDRA ARISTANTO |
60 |
Belum Tuntas |
|
30 |
ZUBAIDAH FEBRIANA NINGTIYAS |
80 |
Tuntas |
|
31 |
ZULFA NUR HISANA |
90 |
Tuntas |
|
|
Rata-rata |
69,84 |
|
Dari data nilai siklus I di atas, dapat
dikatakan bahwa pada nilai post test siswa
telah meningkat jika dibandingkan saat pre
test. Siswa yang tuntas pada saat pre
test sebanyak 10 siswa atau 31,25%, sedangkan siswa yang tuntas pada saat post test sebanyak 20 siswa atau 62,50%
meningkat 10 siswa atau 31,25%, jika dibandingkan saat pre test. Nilai rata-
rata pada post test adalah 69,84 atau
62,50% naik dari rata-rata kelas saat pre
test yang hanya 65,15 atau 31,25%.
Data Peningkatan Jumlah
Siswa yang Mencapai KKM pada Siklus
I
|
Kegiatan |
Siswa Tuntas |
|
Peningkatan |
|
Siklus I |
Pre Test |
Post Test |
|
|
|
10 siswa atau 31,25% |
20 siswa atau 62,50% |
10 siswa atau 31,25% |
b.
Refleksi
Tahap akhir dari siklus I ini, peneliti
dapat menemukan keberhasilan yang dicapai, diantaranya:
1)
Sebagian siswa telah aktif mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung.
2)
Sebagian siswa sudah berani
mengutarakan pendapatnya
Meskipun sudah adabeberapa
keberhasilan dalam pembelajaran,
namun masih ada banyak kekurangan dalam pembelajaran tersebut, di antaranya:
1)
Dalam pembelajaran masih ada siswa yang malah bermain
sendiri.
2)
Dalam pembelajaran banyak siswa yang malu-malu dalam berpendapat
3)
Saat pembagian kelompok berlangsung situasi kelas menjadi
sangat ramai.
4)
Penggunaan waktu kurang efektif
Untuk mengatasi kekurangan pada siklus I peneliti melakukan
ide perbaikan. Hal ini dilakukan supaya siklus berikutnya tidak terjadi
kesalahan yang sama.
1)
Mengatur ulang tempat duduk siswa
2)
Memberikan motivasi
kepada siswa agar lebih aktif dalam mengikuti
pembelajaran.
3)
Peneliti lebih terampil dalam mengelola kodisi
siswa pada saat pembelajaran.
4)
Guru mengelola waktu secara
baik sehingga waktu lebih efektif
dan efisien.
3.
Siklus II
Pada siklus ini digunakan untuk
memaksimalkan penerapan strategi pembelajaran Cooperative Script, dan juga memperbaiki kekurangan pada saat siklus I. Peneliti mencoba memancing keaktifan siswa dalam
mengikuti proses pembelajaran. Sebelum pembelajaran dimulai guru meminta siswa
untuk mengatur ulang atau berpindah tempat duduk diurutkan sesuai
dengan absen masing-masing. Penataan ulang tempat duduk tersebut diharapkan
agar para siswa lebih berkonsentrasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar,
karena teman duduk sebangku tidak sama dengan yang sebelumnya.
a.
Data Hasil Penilaian
Dari instrument nilai test diperoleh
nilai sebagai berikut:
Nilai Evaluasi Siklus II
|
No |
Nama |
Nilai |
Keterangan |
|
1 |
ANGGA SURYA TRI PUTRA |
90 |
Tuntas |
|
2 |
ATHAILLAH RAFLI
PRASETYO |
85 |
Tuntas |
|
3 |
DIANA PUTRY
AVRILIA |
90 |
Tuntas |
|
4 |
DIVA FAUNIA
ELVARETTA |
90 |
Tuntas |
|
5 |
DYAH AYU
UMMU BADI`AH |
90 |
Tuntas |
|
6 |
ERNA FITRI
ANING SRI WAHYUNI |
65 |
Belum Tuntas |
|
7 |
FADHILATUS SA`DIYAH |
90 |
Tuntas |
|
8 |
INDUN MA`RIFATUN NISA` |
80 |
Tuntas |
|
9 |
IZMA FIRZA RAHMADIKA |
90 |
Tuntas |
|
10 |
KHOIRIL ANWAR |
85 |
Tuntas |
|
11 |
KHUSNUL KHOTIMAH |
90 |
Tuntas |
|
12 |
LAILA NUR `IZZA
APRILIA |
90 |
Tuntas |
|
13 |
LISA`YIHA RODHIYAH |
90 |
Tuntas |
|
14 |
M. FARHAN ISLAMI |
90 |
Tuntas |
|
15 |
M.FATKHUR REZA ABIED
SYAH |
90 |
Tuntas |
|
16 |
M.NASYITH TAZAKA |
65 |
Belum Tuntas |
|
17 |
MIFTAHUL ARZAAQIYAH |
90 |
Tuntas |
|
18 |
MIFTAKHUL JANNAH |
75 |
Tuntas |
|
19 |
MOHAMMAD MAS`UD |
85 |
Tuntas |
|
20 |
MUHAMMAD ILHAM AL FAJAR |
85 |
Tuntas |
|
21 |
MUHAMMAD LUTFI ARJULIAN |
65 |
Belum Tuntas |
|
22 |
MUHAMMAD RIZQI ALFAJRI |
90 |
Tuntas |
|
23 |
NIKMATUL FITRIANA |
85 |
Tuntas |
|
24 |
RAHMAT IQBAL KHOIRUL ANAM |
90 |
Tuntas |
|
25 |
SANDIAS AYU
RAGIL KUSUMANING PANGGALIH |
85 |
Tuntas |
|
26 |
SITI QURANI KHUMAIROH |
85 |
Tuntas |
|
27 |
SUNTI AMILIA |
65 |
Belum Tuntas |
|
28 |
WAHYU KARUNIAWATI |
90 |
Tuntas |
|
29 |
WANDRA ARISTANTO |
85 |
Tuntas |
|
30 |
ZUBAIDAH FEBRIANA NINGTIYAS |
80 |
Tuntas |
|
31 |
ZULFA NUR HISANA |
90 |
Tuntas |
|
|
Rata-rata |
82,03 |
|
Dari data nilai siklus II di
atas dapat dikatakan bahwa siswa telah
banyak mengalami peningkatan nilai yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan nilai siswa pada siklus
I.
siswa yang
tuntas pada siklus II ini mencapai 27 anak atau 84,4% dengan nilai rata-rata
tiap anak sebesar 82,03. Akan tetapi, dari pelaksanaan siklus II tersebut masih
ada 5 siswa yang belum bisa mencapai
nilai KKM 75. Sehingga penilitian ini akan berlanjut ke siklus III.
Data Peningkatan Jumlah Siswa yang Mencapai KKM di Siklus
III
|
Kegiatan |
Siswa tuntas |
Peningkatan |
|
|
Evaluasi |
Siklus I |
Siklus II |
|
|
20 siswa atau 62,5% |
27 siswa atau 84,4% |
7 siswa atau 21,9% |
|
b. Refleksi
Tahap akhir dari siklus II ini, peneliti dapat menemukan
beberapa keberhasilan yang dicapai, diantaranya:
1)
Banyak siswa
yang sudah mulai aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.
2)
Nilai rata-rata siswa sudah
jauh meningkat jika dibandingkan pada siklus II
3)
Siswa sudah mulai memahami
pembelajaran Coopertive Script
4)
Siswa sudah tidak malu-malu lagi untuk presentasi di depan kelas.
Meskipun sudah ada beberapa keberhasilan
dalam pembelajaran, namun masih ada beberapa kekurangan dalam pembelajaran
tersebut, diantaranya:
1)
Masih ada beberapa siswa yang main
sendiri
2)
Perhatian
siswa pada saat temannya presentasi masih kurang Untuk mengatasi kekuragan pada
siklus II ini peneliti melakukan perbaikan. Hal ini dilakukan supaya pada
siklus berikutnya tidak terjadi kesalahan yang sama.
1)
Memfokuskan pembelajaran kepada siswa yang bermain sendiri
2)
Semua siswa diminta untuk maju ke depan memaparkan materinya.
4. Siklus III
Pada siklus ini digunakan untuk
memaksimalkan penerapan metode pembelajaran Cooperative
Script, dan juga menutup segaala kekurangan yang ada pada siklus I dan
siklus II. Peneliti memfokuskan perhatiannya kepada setiap anak yang kurang
memperhatikan dalam proses pembelajaran. Selanjutnya peneliti meminta kepada
semua siswa yang belum pernah maju presentasi ke depan untuk prsesentasi.
a. Data Hasil Penilaian
Dari instrument soal pada siklus III diperoleh hasil sebagai berikut: Nilai Evaluasi Siklus III
|
No |
Nama |
Nilai |
Keterangan |
|
1 |
ANGGA SURYA TRI PUTRA |
83 |
Tuntas |
|
2 |
ATHAILLAH RAFLI
PRASETYO |
84 |
Tuntas |
|
3 |
DIANA PUTRY AVRILIA |
83 |
Tuntas |
|
4 |
DIVA FAUNIA ELVARETTA |
85 |
Tuntas |
|
5 |
DYAH AYU UMMU
BADI`AH |
85 |
Tuntas |
|
6 |
ERNA FITRI
ANING SRI WAHYUNI |
83 |
Tuntas |
|
7 |
FADHILATUS SA`DIYAH |
84 |
Tuntas |
|
8 |
INDUN MA`RIFATUN NISA` |
85 |
Tuntas |
|
9 |
IZMA FIRZA RAHMADIKA |
85 |
Tuntas |
|
10 |
KHOIRIL ANWAR |
85 |
Tuntas |
|
11 |
KHUSNUL KHOTIMAH |
84 |
Tuntas |
|
12 |
LAILA NUR `IZZA
APRILIA |
83 |
Tuntas |
|
13 |
LISA`YIHA RODHIYAH |
83 |
Tuntas |
|
14 |
M. FARHAN ISLAMI |
84 |
Tuntas |
|
15 |
M.FATKHUR REZA
ABIED SYAH |
84 |
Tuntas |
|
16 |
M.NASYITH TAZAKA |
83 |
Tuntas |
|
17 |
MIFTAHUL ARZAAQIYAH |
85 |
Tuntas |
|
18 |
MIFTAKHUL JANNAH |
85 |
Tuntas |
|
19 |
MOHAMMAD MAS`UD |
85 |
Tuntas |
|
20 |
MUHAMMAD ILHAM AL FAJAR |
84 |
Tuntas |
|
21 |
MUHAMMAD LUTFI ARJULIAN |
84 |
Tuntas |
|
22 |
MUHAMMAD RIZQI ALFAJRI |
84 |
Tuntas |
|
23 |
NIKMATUL FITRIANA |
76 |
Tuntas |
|
24 |
RAHMAT IQBAL
KHOIRUL ANAM |
85 |
Tuntas |
|
25 |
SANDIAS AYU RAGIL KUSUMANING PANGGALIH |
85 |
Tuntas |
|
26 |
SITI QURANI KHUMAIROH |
83 |
Tuntas |
|
27 |
SUNTI AMILIA |
85 |
Tuntas |
|
28 |
WAHYU KARUNIAWATI |
85 |
Tuntas |
|
29 |
WANDRA ARISTANTO |
85 |
Tuntas |
|
30 |
ZUBAIDAH FEBRIANA NINGTIYAS |
84 |
Tuntas |
|
31 |
ZULFA NUR HISANA |
85 |
Tuntas |
|
|
Rata-rata |
86,12 |
|
Keterangan : Nilai – (siswa tidak hadir)
Dari data nilai siklus III diatas dapat
dikatakan bahwa nilai semua siswa sudah mencapai KKM 75, memang ada satu siswa
yang belum tuntas KKM hal itu dikarenakan siswa tersebut tidak masuk sekolah
karena sedang sakit. Jumlah siswa tuntas yang mengikuti sudah mencapai 100%,
dan nilai rata-rata siswa pun juga naik signifikan. Dari sebelumnya pada siklus
II didapat nilai rata- rata siswa sebesar 82,03 kini pada siklus III menjadi
86,12. Ini menunjukkan bahwa pada penelitian dengan menggunakan metode Cooperative Script ini telah berhasil,
sehingga peneliti tidak perlu melanjutkan ke siklus berikutnya.
Data Peningkatan Jumlah Siswa yang Mencapai KKM di Siklus
III
|
Kegiatan |
Siswa tuntas |
Peningkatan |
|
|
Evaluasi |
Siklus II |
Siklus III |
|
|
27 siswa atau 84,4% |
31 siswa atau 96,8% |
4 siswa atau 12,4% |
|
5.
Hasil Pembahasan
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan
dalam 3 siklus, dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
nilai peserta didik yang cukup baik. Selain itu keaktifan peserta didik dalam
mengikuti pembelajaran meningkat. Dengan demikian, apabila dipadukan dengan
menggunakan metode pembelajaran Cooperative
Script dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat meningkatkan
prestasi belajar pada siswa kelas XI Agama Madrasah Aliyah Negeri 1 Nganjuk.
Hal ini dapat dilihat dari tabel gabungan nilai evaluasi dari siklus ke siklus sebagai berikut:
Gabungan Nilai Evaluasi Antar Siklus
|
No |
Nama |
Pra Siklus |
Siklus I |
Siklus II |
Siklus III |
|
1 |
AS |
70 |
85 |
90 |
83 |
|
2 |
AR |
65 |
75 |
85 |
84 |
|
3 |
DP |
75 |
90 |
90 |
83 |
|
4 |
DF |
70 |
70 |
90 |
85 |
|
5 |
DA |
70 |
55 |
90 |
85 |
|
6 |
EF |
70 |
95 |
65 |
83 |
|
7 |
FS |
70 |
85 |
90 |
84 |
|
8 |
IM |
65 |
75 |
80 |
85 |
|
9 |
IF |
75 |
80 |
90 |
85 |
|
10 |
KA |
65 |
45 |
85 |
85 |
|
11 |
KK |
80 |
75 |
90 |
84 |
|
12 |
LN |
80 |
50 |
90 |
83 |
|
13 |
LY |
60 |
75 |
90 |
83 |
|
14 |
MF |
70 |
70 |
90 |
84 |
|
15 |
MR |
70 |
75 |
90 |
84 |
|
16 |
MN |
60 |
85 |
65 |
83 |
|
17 |
MA |
50 |
55 |
90 |
85 |
|
18 |
MJ |
65 |
75 |
75 |
85 |
|
19 |
MM |
60 |
50 |
85 |
85 |
|
20 |
MI |
60 |
50 |
85 |
84 |
|
21 |
ML |
75 |
85 |
65 |
84 |
|
22 |
MR |
80 |
50 |
90 |
84 |
|
23 |
NF |
75 |
85 |
85 |
76 |
|
24 |
RI |
60 |
70 |
90 |
85 |
|
25 |
SA |
70 |
75 |
85 |
85 |
|
26 |
SQ |
60 |
40 |
85 |
83 |
|
27 |
SA |
85 |
75 |
90 |
85 |
|
28 |
WK |
55 |
60 |
85 |
85 |
|
29 |
WA |
70 |
80 |
70 |
85 |
|
30 |
ZF |
80 |
90 |
80 |
84 |
|
31 |
ZH |
55 |
80 |
90 |
85 |
|
|
Rata-rata |
|
69,84 |
82,03 |
86,12 |
Berdasarkan data di atas dapat diketahui
bahwa dari siklus I ke siklus II dan siklus III
selalu mengalami peningkatan nilai dari tiap siswa. Pada siklus I siswa yang
tuntas sebanyak 20 siswa atau 62,5% dan terjadi peningkatan pada siklus II
manjadi 27 siswa atau 84,4% ,
kemudian terjadi peningkatan kembali pada siklus III yakni menjadi 31 siswa
yang tuntas atau 86,12%. Akan tetapi masih ada 1 siswa yang belum dapat
mencapai nilai KKM, dikarenakan siswa tersebut pada saat pelaksanaan siklus
II dan siklus III tidak dapat hadir karena sedang sakit.
Berdasarkan informasi yang telah didapat
peneliti menunjukkan bahwa hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam banyak yang belum mencapai KKM yang teleh ditentukan yaitu sebesar
75. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran yang
monoton juga menjadi salah satu penyebabnya. Peneliti berusaha melakukan
inovasi dengan cara menerapkan metode pembelajaran Cooperative Script pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
materi Bangsa Arab Pra Islam. Dengan diterapkannya metode pembelajaran Cooperative Script tersebut diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MIPA 2 MA Darussalam Nganjuk.
Selanjutnya, peneliti mulai melakukan
tindakan pada siklus I dengan menggunakan metode pembelajaran Cooperative Script yang dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus 2022. Pada siklus I ini
sebagian siswa terlihat aktif mengikuti pembelajaran yang berlangsung, namun
ada juga sebagian siswa yang malah asyik main sendiri. Sebelum pembelajaran
diakhiri, peneliti membagikan soal tes dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan siswa dalam memahami materi yang telah disampaikan sekaligus
sebagai acuan dalam melihat indikator keberhasilan pembelajaran.
Dari hasil tes pada siklus I dapat
diperoleh hasil peningkatan dari pre test
ke post test. Pada saat pre test siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa
atau 31,25% meningkat menjadi 20 siswa atau 62,50%. Dari siklus I ini masih
terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. Meskipun ketuntasan belajar siswa
telah mengalami peningkatan, namun belum
dapat mencapai kriteria ketuntasan yaitu sebesar ≥85% dari jumlah siswa. Oleh
karena itu, penelitian akan dilanjutkan ke siklus II.
Penelitian siklus II dilaksanakan pada
tanggal 5 Agustus 2022, pada siklus II ini peneliti masih menggunakan metode pembelajaran Cooperative Script sekaligus memperbaiki
kekurangan yang ada pada siklus I. Dalam pelaksanaan siklus II ini banyak siswa
yang sudah mulai aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti
dan juga banyak siswa yang bertanya ketika belum paham terhadap materinya.
Situasi di kelas pun sudah mulai kondusif dan para siswa sudah mengetahui alur
pembelajaran dengan menggunakan metode Cooperative Script. Seperti biasanya,
sebelum peneliti mengakhiri
pembelajaran terlebih dahulu peneliti memberikan soal tes
untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik.
Dari hasil tes pada siklus II, menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus
II.
Pada saat
siklus I siswa yang tuntas sebanyak
20 siswa atau 62,5% meningkat pada saat siklus II menjadi 27 siswa atau 84,4%.
Dari siklus II ini masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. Meskipun
ketuntasan belajar siswa telah mengalami peningkatan, namun belum dapat mencapai
kriteria ketuntasan yaitu sebesar ≥85% dari jumlah siswa. Oleh karena itu,
penelitian akan dilanjutkan ke siklus III.
Penelitian siklus III dilaksanakan pada
tanggal 11 Agustus 2022, pada siklus III ini peneliti masih menggunakan metode pembelajaran Cooperative Script sekaligus memperbaiki
kekurangan yang ada pada siklus II.
Dalam pelaksanaan siklus III ini banyak siswa yang sudah mulai aktif dalam
bertanya dan menjawab pertanyaan. Situasi di kelaspun sudah mulai kondusif dan para siswa sudah mengetahui
alur pembelajaran dengan menggunakan metode Cooperative
Script. Seperti biasanya, sebelum peneliti mengakhiri pembelajaran terlebih
dahulu peneliti memberikan soal tes untuk mengetahui tingkat keberhasilan
peserta didik.
Dari data tes pada siklus III,
menunjukkan adanya peningkatan dari siklus II ke siklus III. Pada saat siklus II siswa yang tuntas sebanyak 27
siswa atau 84,4% meningkat pada saat siklus III menjadi 31 siswa atau 86,12%.
Dari hasil peningkatan tersebut diketahui bahwa lebih dari 85% siswa sudah
berhasil mencapai KKM, sehingga penelitian tidak perlu dilanjutkan ke siklus
berikutnya.
B.
Penutup
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
penerapan metode pembelajaran Cooperative
Script dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran SKI materi Bangsa Arab Pra Islam pada siswa
kelas X MIPA 2 semester ganjil di MA Darussalam Tahun Pelajaran 2022/20232. Hal ini dapat dibuktikan
dengan adanya peningkatan hasil belajar
siswa dari siklus I ke siklus
II dan ke siklus III. Pada siklus I
ini nilai yang tuntas sesuai
KKM sebanyak 20 siswa atau 62,5%. Kemudian pada siklus II nilai yang tuntas
naik menjadi 27 siswa atau 84,4%. Selanjutnya pada siklus III jumlah siswa yang tuntas sebanyak 31 siswa atau 86,8%. Pencapaian
86,12% ≥ 85% artinya jumlah siswa yang tuntas sudah sesuai dengan kriteria
klasikal yang telah ditentukan, maka Penelitian Tindakan Kelas dinyatakan
berhasil.
Daftar Pustaka
A'la, Miftahul. Quantum
Teaching. Yogyakarta: Diva Press. 2011.
Arikunto, Suharsimi, dkk. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta:
PT Bumi Aksara. 2008.
A.W. Munawir.
Kamus al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif. 1997.
Danserau Cs.. Cooperative Learning
Tipe Cooperative Script. 1985
Djamarah, Syaiful
Bahri. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka
Cipta. 2000.
Huda, Miftahul. Model-Model Pengajaran
Dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2014.
Koentjaraningrat.
Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia. 1980. Mulyasa. Praktik
Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. 2011.
Nurhadi. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya
dalam KBK. Universitas Negeri Malang: Surabaya. 2004.
Riyanto, Yatim. Paradigma
Baru Pembelajaran. Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup.
2009.
Sardiman.
Interaksi & Motivasi Belajar
Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2001. Sholeh, Hamid, Moh. Metode Edutainment. Yogyakarta: Diva
Press. 2011.
Sjamsuddin.
Metodologi Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka.
1996.
Slameto. Belajar
dan faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta. 1991. Slavin,
R.E. Educational Psychology : Theory and Practice. Third Edition. Massachusetts:
Allyn and Bacon. 1994.
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
2009.
Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R & D. bandung:
Alfabet. 2011. Sujono. Asuhan Keperawatan Anak. Surabaya: Graha
Ilmu. 2009.
Suyadi. Buku Panduan Guru Professional – Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Yogyakarta: Andi. 2012.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: Rosda Karya.
2002.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Semarang: Aneka Ilmu. 2004.
Widoyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran, Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Pendidik.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Winkel, WS. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia. 2003.
Yonny, Acep
dkk. Menyusun Penelitian Tindakan
Kelas. Yogyakarta: Grub Relasi
Inti Media.
2012.
[2] Sujono, Asuhan Keperawatan Anak, (Surabaya: Graha Ilmu, 2009), 46.
[3] 3 Subrata, Strategi dan Model-model Pembelajaran Bahasa Indonesia, 2008, 228
[4] R.E Slavin, Educational Psychology : Theory and Practice. Third Edition.
(Massachusetts: Allyn and Bacon,
1994), 147
[5] Miftahul A'la,. 2011. Quantum Teaching,
(Yogyakarta: Diva Press, 2011),
97
[6] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Grup, 2009), 284
[7] Wasty Soemanto, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2009), 51
[8] Nurhadi, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. (Universitas Negeri Malang:
Surabaya, 2004), 112
[9] Sardiman, Interaksi & Motivasi
Belajar Mengajar,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001),
3
[10] Sujono, Asuhan Keperawatan Anak, (Surabaya: Graha
Ilmu, 2009), 12
[11] Danserau Cs, Cooperative
Learning Tipe Cooperative Script, 1985, 12
[12] R.E Slavin, Educational Psychology : Theory and Practice.
Third Edition. (Massachusetts: Allyn and
Bacon, 1994), 88
[13] Moh Sholeh
Hamid, Metode Edutainment, (Yogyakarta: Diva Press, 2011),
220

Good job!!😍 Very good article 🔥😍
BalasHapus